#1ThBandungUtama RMP dan Perbaikan Sarana Pendidikan, Jaga Asa Anak Tetap Sekolah
Bagi sebagian anak, sekolah bukan sekadar tempat belajar. Ia adalah ruang bertemu teman, berbagi cerita, dan menumbuhkan cita-cita.
Di tengah keterbatasan ekonomi keluarga, keberlanjutan pendidikan sering kali bergantung pada hal-hal sederhana: seragam, sepatu, hingga alat tulis.
Dalam satu tahun perjalanan visi Bandung Utama, Program RMP menjadi salah satu ikhtiar menjaga agar anak-anak tetap melangkah ke sekolah tanpa terhenti persoalan biaya dasar pendidikan.
Nataly El Marco, siswa kelas 6 SD Kemala Bhayangkara, mengaku bahagia bisa terus bersekolah dan bertemu teman-temannya setiap hari.
“Rasanya bahagia terus, karena di rumah juga suka enggak ada kerjaan. Di sekolah bisa belajar, bisa ketemu teman, bisa dapat ilmu juga,” ujarnya.
Bantuan yang diterimanya telah digunakan untuk membeli sepatu, seragam, ikat pinggang, dasi, dan topi.
Bagi Marco, perlengkapan itu bukan sekadar barang, tetapi bagian dari semangat baru untuk terus belajar. Ia bercita-cita menjadi pemain bola.
Hal serupa dirasakan Krisna Ananda Putra, teman sekelasnya.
“Senang. Soalnya di rumah sedikit temannya, jadi di sekolah banyak. Sama bisa dapat ilmu juga,” katanya.
Bantuan yang diterimanya digunakan untuk membeli seragam, topi, sepatu, dan alat tulis. Krisna memiliki mimpi menjadi gamer dan melakukan siaran langsung di platform digital.
Sementara itu, Gilang Adriansyah menyebut sekolah sebagai tempat bersosialisasi dan mencari ilmu.
“Senang karena bisa bersosialisasi, bertemu teman-teman, dan mencari banyak ilmu,” ucapnya.
Bantuan yang ia terima digunakan untuk membeli seragam, sepatu, topi, dan perlengkapan sekolah lainnya. Ia juga bercita-cita menjadi pemain bola.
Berbeda kelas, namun memiliki semangat serupa, Al Jenafat Odelayapi, siswa kelas 5, mengaku merasa tenang saat berada di sekolah.
“Di rumah enggak ada teman,” katanya.
Bantuan yang diterimanya telah digunakan untuk membeli sepatu, baju, dan topi. Ia pun semakin bersemangat melanjutkan pendidikan dan memiliki cita-cita menjadi pemain bola.
Program Rawan Melanjutkan Pendidikan (RMP) bukan sekadar angka dalam laporan tahunan. Di baliknya, ada ribuan anak yang kembali punya ruang untuk bertahan di bangku sekolah.
Berdasarkan data Dinas Pendidikan Kota Bandung tahun 2025, RMP menjangkau 22.924 siswa jenjang SD dan SMP di Kota Bandung.
Pada jenjang SD, bantuan diberikan kepada 8.379 siswa dengan total anggaran tersalurkan sebesar lebih dari Rp12 miliar, yang terdiri dari bantuan biaya personal dan bantuan perlengkapan.
Sedangkan pada jenjang SMP, sebanyak 14.545 siswa menerima manfaat RMP dengan total anggaran lebih dari Rp26 miliar, juga meliputi biaya personal dan bantuan perlengkapan.
Secara keseluruhan, Pemkot Bandung mengalokasikan lebih dari Rp38 miliar untuk memastikan anak-anak dari keluarga rentan tetap bisa bersekolah.
Angka-angka tersebut menggambarkan satu hal sederhana namun penting: keberpihakan pada masa depan. RMP menjadi jaring pengaman agar persoalan ekonomi tidak memutus mimpi anak-anak untuk terus belajar.
Bagi sebagian keluarga, bantuan ini mungkin menjadi penentu: antara tetap melanjutkan sekolah atau berhenti di tengah jalan.
Dan selama satu tahun terakhir, ribuan anak di Kota Bandung memilih untuk tetap bertahan, karena ada negara yang hadir menjaga asa mereka.
Selain memastikan anak-anak tetap bisa bersekolah melalui program RMP, Pemerintah Kota Bandung juga memperkuat infrastruktur pendidikan melalui pembangunan dan rehabilitasi sarana prasarana sekolah sepanjang 2025.
Berdasarkan rekap kegiatan, pembangunan dan perbaikan dilakukan pada berbagai aspek, mulai dari pembangunan ruang kelas baru, rehabilitasi ruang kelas, hingga pembenahan fasilitas penunjang seperti toilet sekolah.
Pada jenjang SMP, sejumlah ruang kelas baru dibangun untuk menambah daya tampung dan mengurangi kepadatan belajar.
Selain itu, rehabilitasi ruang kelas juga dilakukan di puluhan sekolah guna memastikan proses belajar mengajar berlangsung lebih aman dan nyaman.
Tak hanya ruang kelas, perbaikan toilet sekolah menjadi perhatian serius. Rehabilitasi fasilitas sanitasi dilakukan di banyak SMP negeri untuk meningkatkan standar kebersihan dan kesehatan lingkungan sekolah.
Sementara di jenjang SD, pembangunan dan rehabilitasi juga menyasar ruang kelas, toilet, serta fasilitas pendukung lainnya.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan lingkungan belajar yang layak, terutama bagi sekolah-sekolah dengan kondisi bangunan yang sudah memerlukan perbaikan.
Upaya pembangunan ini memastikan bahwa keberpihakan pada pendidikan tidak hanya berhenti pada bantuan biaya, tetapi juga memastikan anak-anak belajar di ruang yang aman, sehat, dan bermartabat.
Sebab menjaga asa anak untuk tetap sekolah bukan hanya soal membayar kebutuhan belajar, tetapi juga memastikan mereka memiliki ruang yang layak untuk tumbuh dan berkembang.(dskoinf.bdg)

Tidak ada komentar