Di Hadapan Siswa Australia, Farhan Kenalkan Sejarah Panjang Kota Bandung
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan pentingnya menjaga kawasan bersejarah di Kota Bandung yang menjadi saksi perjalanan panjang pendidikan dan perjuangan bangsa.
Hal tersebut disampaikannya saat Meet & Greet Group 1 Bellarine Secondary College, Australia di Pendopo Kota Bandung pada Minggu 5 April 2026.
Menurut Farhan, kawasan yang kini menjadi bagian dari pusat pemerintahan kota dulunya merupakan komplek penting yang memiliki nilai historis tinggi. Bahkan, salah satu bangunannya kini digunakan sebagai kantor Wali Kota.
“Kawasan ini dulunya dikenal sebagai komplek pemerintahan dan sekarang salah satu bangunannya menjadi kantor saya. Dari sini, saya mengawal jalannya pemerintahan Kota Bandung,” kata Farhan.
Farhan menjelaskan, bangunan di kawasan tersebut mulai dibangun sejak tahun 1896 dan mengalami pengembangan pada sekitar 1920. Pada masa itu, bangunan tersebut menjadi cikal bakal institusi pendidikan tinggi teknik pertama di Indonesia, yakni Technische Hoogeschool.
Kini, institusi tersebut telah berkembang menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB) yang dikenal sebagai salah satu perguruan tinggi teknik terbaik di Tanah Air.
Tak hanya sebagai pusat pendidikan, kawasan ini juga menyimpan jejak sejarah arsitektur yang kuat. Berbagai bangunan dengan perpaduan gaya Eropa dan lokal termasuk elemen arsitektur tradisional seperti joglo, masih berdiri kokoh dan menjadi bagian dari identitas Kota Bandung.
Namun, perjalanan kawasan ini tidak lepas dari masa kelam. Pada tahun 1946, pasca peristiwa Bandung Lautan Api banyak bangunan di area tersebut terbakar. Warga saat itu terpaksa meninggalkan kota demi mencegah Bandung jatuh ke tangan penjajah, yang berujung pada hangusnya sejumlah bangunan bersejarah.
“Peristiwa itu menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan kita dan membentuk identitas Kota Bandung hingga hari ini,” ujarnya.
Ia menekankan, upaya pelestarian kawasan bersejarah tidak hanya sebatas menjaga fisik bangunan, tetapi juga merawat nilai-nilai perjuangan yang terkandung di dalamnya.
“Menjaga kawasan ini bukan hanya soal merawat bangunan, tetapi juga menjaga sejarah dan semangat perjuangan yang diwariskan kepada kita,” pungkasnya.(dskoinf.bdg)

Tidak ada komentar