Cetak Inovator Kelas Dunia, Kepala SMA Kartika XIX-1 Bandung: Ini Bukti Nyata Karakter Pancawaluya!
Keberhasilan Ardellio Satria Anindito dan Muhammad Azhar Ayatullah Al Faridzi menyabet Juara 2 di ajang bergengsi The Gemma 4 Good Hackathon tingkat global tak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga mengharumkan nama ekosistem pendidikan di Jawa Barat. Di balik prestasi tersebut, ada peran sekolah yang terbuka dan memfasilitasi daya cipta siswa.
Kepala SMA Kartika XIX-1 Bandung, Doni Susanto Kisman mengaku sangat terkejut, sekaligus bangga saat menerima kabar bahwa dua siswanya berhasil menaklukkan kompetisi teknologi internasional yang diikuti belasan ribu peserta dari berbagai negara.
"Saya sangat terkejut. SMA Kartika XIX-1 mungkin bukan sekolah yang besar atau masuk kategori sekolah elit. Namun, alhamdulillah tahun ini kami mendapat kejutan luar biasa dari Ardelio dan Azhar. Mereka meraih prestasi bukan hanya di tingkat nasional, tapi menembus internasional. Ini menjadi kebanggaan sekaligus hadiah yang luar biasa untuk SMA Kartika," ungkap Doni saat ditemui di sekolah, Kamis (15/10/2026).
Untuk menyokong proses riset dan demonstrasi aplikasi TRIDO, sebuah AI papan tulis digital dengan perintah suara bagi pengajar disabilitas, pihak sekolah memberikan akses penuh terhadap fasilitas yang ada. Lio dan Azhar diberikan keleluasaan untuk menggunakan laboratorium komputer serta fasilitas papan tulis digital interaktif.
"Kami selalu mendukung setiap kegiatan positif siswa. Silakan gunakan fasilitas laboratorium komputer atau sudut-sudut sarana sekolah lainnya. Hal ini juga terbuka untuk semua anak yang lain, asalkan peruntukannya jelas dan memiliki tujuan positif," tegasnya.
Namun, hal yang paling membuat Doni terkesan bukanlah semata-mata kecanggihan teknologi yang diciptakan, melainkan nilai empati dan kepekaan sosial yang melatarbelakanginya. Inovasi TRIDO lahir dari kepedulian Lio dan Azhar terhadap kesulitan yang dialami seorang guru SMP penyandang disabilitas yang bahkan bukan berasal dari instansi SMA Kartika XIX-1 itu sendiri.
Bagi Doni, hal tersebut mematahkan stigma bahwa generasi Gen-Z adalah generasi yang apatis. "Ini di luar dugaan saya. Sering kali kita berpikir siswa sekarang hanya fokus pada kesukaan mereka sendiri atau pada tren semata. Ternyata, Ardelio dan Azhar memiliki jiwa kepedulian yang sangat tinggi," tuturnya.
Menurut Doni, empati tersebut adalah implementasi sempurna dari nilai-nilai pendidikan karakter Pancawaluya yang digaungkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. "Nilai-nilai Pancawaluya sudah masuk semua dalam diri mereka. Bisa dilihat dari produk yang mereka hasilkan maupun prosesnya yang sangat mencerminkan karakter kebaikan," tambahnya.
Melihat cepatnya arus perputaran informasi dan digitalisasi, Doni juga menitipkan pesan krusial bagi seluruh siswanya. Keberhasilan TRIDO diharapkan dapat menjadi pemantik bagi pelajar lain untuk mulai beralih dari sekadar menjadi konsumen teknologi, menjadi produsen solusi.
"Perkembangan zaman dan teknologi saat ini melaju begitu cepat. Harapan saya ke depan, silakan manfaatkan teknologi sebesar-besarnya, namun pastikan untuk hal yang positif dan bijak. Ingat, apa pun yang kita lakukan di dunia maya akan selalu tercatat dan memiliki dampak panjang untuk masa depan kita sendiri," pungkasnya.(dsdik.jbr)

Tidak ada komentar